Why: Simply small little fact

 

..Something in your eyes was so inviting
Something in you smile was so exciting
Something in my heart told me I must have you

 

Strangers in the night
Two lonely people, we were strangers in the night
Up to the moment when we said our first hello little did we know
Love was just a glance away, a warm embracing dance away

and

 

Ever since that night we’ve been together
Lovers at first sight, in love forever
It turned out so right for strangers in the night…

 

Frank Sinatra, Strangers in the night

Indah, itulah perasaan kita waktu mendengar lagu dari Frank Siatra tersebut. Lalu apa hubungannya dengan strategi bisnis anda? Jawabannya sangat sederhana, yaitu: bagaimana kita berusaha menarik perhatian orang tak dikenal (strangers) atau calon customer kita agar jatuh cinta pada pandangan pertama yang nantinya diharapkan terjadinya hubungan yang lebih jauh dan lebih dalam (engagement).

 

Lalu bagaimana bisnis menciptakan proses ini? Secara singkat, salah satu cara bisnis berusaha memikat calon customer adalah melalui strategi branding, termasuk didalamnya adalah melalui komunikasi yang intens dan interaktif melalui berbagai tools design.
Apa sajakah tools tersebut? Antara lain melalui web, packaging, iklan, brosur, hingga ke kartu nama.

 

Apakah ini merupakan suatu keharusan? Menurut Tom Peter salah satu mahaguru manajemen, pada buku-nya On Design:

 

Design is about “soul”
Design comes first
Design drives and defines the enterprise and its fundamental value proposition
Think Apple, Next, Pixar, Sony, Nokia

 

Dengan kata lain, banyak perusahaan sukses, menitik beratkan strategi desain pada strategi bisnis-nya.

 

Mengapa begitu? menurut Tom Peter lagi, kekuatan produk sekarang ada pada : Great buzz, penciptaan produk dan komunikasi-nya yang Unique, Memorable, penciptaan produk yang mampu memenuhi mimpi customer, atau bahkan strategi komunikasi yang bercirikan ‘Tells a story’, dan tentu saja pembuatan produk yang mencitrakan siapa diri customer tersebut.

 

Karena :
Uniqueness = the emotional connection

 

Contoh sederhana lagi adalah, bagaimana kekuatan McDonald yang mampu memikat anak-anak generasi sekarang di Amerika. Mungkin McDonald’s sendiri di mata mereka jauh terkenal dibanding George washington.

 

Di Indonesia sendiri, fakta-nya makin banyak keluarga muda, anak-anak hingga remaja memilih merayakan hari ulang mereka di McDonald’s ketimbang merayakan di rumah atau di taman yang indah misal-nya. Ini tentu saja sangat berbeda dengan era tahun 80-an.
Nah bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda siap ‘mencuri’ perhatian calon customer anda, agar terjadi ‘love at first sight’? Apakah anda siap membangun hubungan emosional dengan customer anda dengan uniqueness?

by: IK

Previous | Index |